KEWAJIBAN MEMBAYAR HUTANG

Dari Abi Hurairah r,a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa berbuat zhalim kepada saudaranya yang seiman dari hartanya atau sebagian dari itu, maka hendaklah ia menyelesaikannya pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari dimana dinar dan dirham tidak memberi manfaat apa-apa. Bila ia mempunyai amal shaleh maka amal tersebut diberikan kepada saudaranya yang dizhaliminya. Namun jika ia tidak memiliki amal shaleh maka dosa yang dizhaliminya, ditimpakan kepadanya."
(H.R Bukhari - Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud)
Setiap diri manusia tentu memiliki hutang atau setidaknya pernah berhutang. Berhutang kadangkala terpaksa kita lakukan, karena kala itu kita tidak memiliki uang cukup untuk berbelanja barang atau jasa kebutuhan kita. Berhutang boleh-boleh saja, sebagai salah satu bentuk jual beli, bahkan orang kaya sekalipun masih punya hutang, apalagi pada perusahaan / badan usaha tentu tidak akan terhindari dari hutang – piutang ini.

Banyak nasehat tentang ”hati-hati dalam berhutang”, Kata pepatah orang tua kita dulu, bayang-bayang hendaknya sepanjang badan, atau dalam bahasa akuntansi berhutang harus memenuhi ketaatan akan ”azas likwiditas”. Janganlah besar pasak dari pada tiang. Artinya, sebelum berhutang hendaknya kita berfikir berulang kali, jangan sampai suatu saat hutang kita membebani diri kita, bahkan ahli waris kita.

Sering kita jumpai sebelum dibacakan do’a terhadap mayat pada saat prosesi penguburan secara Islam, pihak keluarga atau yang mengwakilinya, mengumumkan pada khalayak yang hadir dalam pemakaman, untuk menghubungi ahli waris secepatnya, apabila jenazah masih tersangkut akan ”Hutang-piutang”. Memang soal yang satu ini tidaklah sederhana adanya, karena kalau umat Muhammad SAW ini wafat, hutang-piutang juga tidak serta merta di hapus, malah berdasarkan hadist tersebut di atas, ternyata hutang dan piutang akan tetap dibayarkan di akhirat nanti, dengan mata uang yang disebut ”transfer amal shaleh dan dosa”.
Bagi umat yang membawa mati hutangnya alias tidak mau membayar hutangnya sampai dia wafat, maka diakhirat nanti hutang itu akan dibayar dengan amal kebaikan / pahala yang di dapatnya selama hidup, dan teryata bila dirinya tidak memiliki amal shaleh, dengan serta merta ”Debitur nakal” ini akan mendapat tagihan berupa ”transfer dosa” dari orang yang berpiutang padanya.
Pertanyaannya, apakah hadist ini dapat kita pahami?, apa kita tidak takut menjadi ahli neraka, hanya karena satu kata yang namanya ”hutang”?.

Sebaiknya, orang-orang yang memiliki hutang, hutangnya harus ditulis dalam catatan yang rapi, sehingga keluarga dan ahli waris suatu saat mengetahuinya, syukur-syukur ahli waris mau membayarnya, kalau tidak mampu atau mau membayarnya, maka transfer ”pahala atau dosa” akan dilakukan secara otomatis, tentunya mesin ATM-nya Allah, SWT super canggih.
Banyak saudara kita yang punya hutang menghindari untuk membayar hutangnya, bahkan kalau sudah melihat sang kreditor-nya, mereka acuh tak acuh, kadangkala upaya menghindari dilakukan dengan berbagai cara, ada yang berbalik arah perjalanan, sementara itu ada juga yang terpaksa berkeliling mengambil jalan memutar, untuk menghindari halaman depan rumah yang berpiutang. Debitur seperti tentu tidak paham akan hadist ini atau mungkin tidak mau tau, justru orang seperti ini, umat yang merugi dan calon penghuni Api Neraka.

Tentang hutang piutang ini, cukup banyak pengalaman unik penulis, salah satunya: ada orang yang tadinya bermanis-manis muka, berjanji muluk-muluk untuk mendapatkan hutangan. Sudah diberi hutang peralatan mesin, masih hutang selang semprot, dihutangi selang semprot, e hutang lagi uang untuk pembayaran eskavator. Tapi ketika urusan pembayaran, alamak.... susahnya minta ampun, kata orang jawa ”amit-amit cabang bayi”. Hutang yang belasan juta, hanya dicicil dua kali dengan total sebanyak dua juta. Sisanya... he he mungkin mau dibayar dengan amal kebaikannya di akhirat nanti, atau mungkin mau terima transfer dosa saya nantinya, tidak tahu lah. Yang jelas sudah hampir empat bulan ini tidak nampak batang hidungnya si debitor ini, pernah sekali ketemu, e malah cuek, tidak merasa punya hutang.
Saudaraku, kita hidup ini harus saling nasehat menasehati, biar kita tidak termasuk sebagai ”orang yang merugi” seperti yang disebut dalam Surat Al Ashr.

Dalam ajaran Islam, soal hutang piutang tidak ada klausul ”force Majeur” seperti perjanjian di polis asuransi, kalau dalam etika peransuransian, pembayaran klaim asuransi bisa batal, hanya karena keadaan yang luar biasa, katakanlah seperti terjadi Tsunami di Aceh dulu, maka pihak asuransi menjadi batal kewajibannya untuk membayar.
Hutang-piutang juga tidak akan lunas hanya karena kita telah melakukan salam-salaman saling memaafkan di Hari Raya Idul Fitri, Hutang tetap hutang, maka hati-hatilah terhadap yang satu ini.

Bagi yang berpiutang juga sebenarnya harus menyadari dan bersabar manakala debitor belum dapat membayar kewajibannya, hal ini tertulis dalam Surat Al Baqarah ayat 280, yang artinya: ”Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. Selanjutnya dalam surat yang sama pada ayat 282 dijelaskan. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (CB_NQ).
Share this article :

0 komentar:

Silahkan Memberikan Komentar.

Selalu gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomentar...

 
Supported by : STIAMI University | LP3I College | Belitung Human Capital Investment
Copyright © 2014. NURUL QODRI : Fikiran, Nurani dan Ibadah - All Rights Reserved
Template Inspired by Nurul Qodri
Proudly powered by NurulQodri.com